Lulusan SMK Kalah Saing? Jangan Salahkan Skill Terlebih Dahulu



Kita sering menyalahkan kurikulum. Kadang menyalahkan fasilitas. Tidak jarang pula menyalahkan siswa. Namun jika kita jujur dan berani melakukan refleksi, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan: apakah lulusan SMK kalah saing karena kurang keterampilan, atau karena kita terlalu fokus mengajarkan cara bekerja tanpa benar-benar melatih cara bersikap di tempat kerja?

Pertanyaan ini penting, sebab realitas di lapangan menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana “kurang skill”. Bahkan dalam banyak kasus, skill bukanlah akar masalahnya.

Realita Lulusan SMK Hari Ini

Secara teknis, banyak siswa SMK sebenarnya sangat mumpuni. Mereka mampu melakukan praktik sesuai prosedur, memahami alat dan mesin, serta lulus uji kompetensi sesuai standar sekolah. Dalam konteks pembelajaran, mereka dinyatakan siap kerja.

Namun ketika memasuki dunia industri, tidak sedikit yang kesulitan menembus seleksi atau bertahan dalam jangka panjang. Di sinilah muncul kesenjangan antara kesiapan akademik dan kesiapan profesional. Dunia kerja tidak hanya menilai apa yang seseorang bisa kerjakan, tetapi juga bagaimana cara ia bekerja.

Keluhan Industri yang Sering Terabaikan

Jika dicermati lebih jauh, pihak industri jarang mengeluhkan kemampuan teknis lulusan SMK. Catatan yang lebih sering muncul justru berkaitan dengan karakter kerja: kedisiplinan yang lemah, kesulitan menerima arahan, kurangnya inisiatif, serta mudah menyerah ketika menghadapi tekanan target.

Masalahnya bukan pada keterampilan tangan, melainkan pada mindset kerja dan sikap profesional. Dunia kerja membutuhkan individu yang dapat dipercaya, konsisten, dan bertanggung jawab dalam situasi nyata.

Kontras Budaya: Sekolah dan Dunia Kerja

Perbedaan paling mendasar sebenarnya terletak pada standar budaya. Di lingkungan sekolah, keterlambatan masih dapat ditoleransi, tugas yang belum selesai diberi kesempatan tambahan, dan pekerjaan yang belum sempurna tetap memperoleh nilai. Sistem pendidikan memberi ruang perbaikan.

Sebaliknya, di dunia kerja, keterlambatan dapat berujung pada peringatan. Ketidaksiapan dianggap sebagai risiko. Target yang tidak tercapai berdampak langsung pada produktivitas dan posisi kerja seseorang. Tidak ada ruang toleransi yang terlalu longgar karena setiap kesalahan memiliki konsekuensi nyata.

Perbedaan standar inilah yang sering menimbulkan kejutan budaya bagi lulusan SMK. Mereka terbiasa dengan sistem yang relatif fleksibel, lalu dihadapkan pada sistem yang menuntut disiplin tinggi dan konsistensi penuh.

Skill Membuka Pintu, Attitude Menjaga Kesempatan

Attitude bukan sekadar pelengkap, melainkan penentu keberlanjutan karier. Skill memang membuka pintu kesempatan, tetapi attitude yang menjaga pintu itu tetap terbuka.

Kepercayaan atasan dan rekan kerja tidak dibangun dari kemampuan teknis semata, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten: datang tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai standar, menjaga etika komunikasi, dan bertanggung jawab atas pekerjaan.

Skill membuat seseorang diterima. Attitude membuatnya dipertahankan.

Refleksi untuk Pendidikan Kejuruan

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siswa. Sikap kerja tidak muncul begitu saja; ia dibentuk melalui budaya dan pembiasaan. Jika selama proses pendidikan kita lebih menekankan aspek teknis dibanding pembentukan mental profesional, maka hasilnya akan terlihat ketika siswa memasuki dunia kerja.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apakah SMK benar-benar telah menyiapkan siswa untuk dunia kerja, atau baru sebatas menyiapkan mereka untuk dunia sekolah?

Simulasi Budaya Kerja sebagai Langkah Nyata

Langkah konkret yang dapat dilakukan adalah mensimulasikan budaya kerja di dalam kelas dan bengkel praktik. Jam masuk dapat disesuaikan dengan standar industri. Tugas diperlakukan sebagai target profesional, bukan sekadar kewajiban akademik. Kegiatan praktik dikelola dengan sistem yang lebih disiplin dan berbasis tanggung jawab nyata.

Budaya kerja tidak cukup diajarkan melalui teori atau nasihat. Ia harus dibentuk melalui sistem yang konsisten dan tegas, sehingga siswa terbiasa dengan standar yang mendekati realitas industri.

Jadi lulusan SMK kalah saing bukan selalu karena kurang skill. Dalam banyak kasus, tantangan terbesarnya justru berada pada karakter dan sikap profesional. Jika ingin melihat perubahan nyata, maka pembenahan tidak cukup pada kurikulum atau fasilitas saja, tetapi juga pada budaya pendidikan yang kita bangun setiap hari.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita semua, khususnya para pendidik: setujukah bahwa tantangan terbesar lulusan SMK hari ini bukan hanya soal skill, tetapi soal attitude dan karakter kerja?

Diskusi ini penting, karena masa depan siswa kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka pelajari, tetapi oleh kebiasaan kerja yang mereka bawa ketika lulus nanti.